Mengenal Keberagaman Desa-Desa Adat di Lombok

Kalau mendengar nama Lombok, mungkin yang terlintas dalam benak semua orang pasti Gunung Rinjani yang terkenal dengan puncaknya yang indah serta julukan ‘Atap di Lombok’. Tetapi, tak banyak yang tahu jika Lombok juga punya desa-desa yang masih mempertahankan cara hidup mereka tetapi tak menghilangkan aspek dan jiwa nasionalisme. Meski desa-desa adat di Lombok masih tergolong primitif karena meyakini apa kata nenek moyang, nyatanya mereka masih mau menerima wisatawan untuk sekedar bermain-main dan menggunakan bahasa Indonesia diselingi dengan bahasa daerah. Ada beberapa desa menarik yang wjaib untuk diketahui oleh Anda yang ingin ke Lombok.

Desa-desa adat di Lombok

Mengenal Lebih Dalam Desa-Desa Adat di Lombok

Lombok memang dikenal dengan khasnya yang timur dan memegang teguh prinsip. Ini bisa ditemukan di desa-desa adat di Lombok yang tetap percaya dengan prinsip mereka meski telah ratusan tahun berada dalam tempat tersebut dan ilmu komunikasi berkembang pesat. Berikut ini 3 desa adat di Lombok yang terbilang unik.

  1. Desa Blek

Desa yang pertama adalah Desa Blek. Desa ini terletak di desa Sembalun Lawang, kecamatan Sembalun. Sembalun sendiri dikenal dengan bukit Sembalun, salah satu bukit menuju Rinjani. Jika berada di desa ini, Anda akan disuguhkan dengan pemandangan yang sama sekali berbeda dan tak biasa untuk dilihat. Di desa ini terdapat 7 buah rumah tradisional yang dipercaya sebagai awal mula Sembalun. Rumah-rumah di desa ini berbahan dasar alam termasuk daun-daun kering sebagai atapnya. Yang unik dari desa ini, jika Anda berkunjung maka Anda akan disambut dengan tarian tradisional yang unik diiringi dengan alat musik daerah.

  1. Desa Beleq

Destinasi dari desa-desa adat di Lombok selanjutnya adalah Desa Beleq. Desa ini tergolong yang primitif dan masih percaya akan nasihat nenek moyang mereka. Salah satunya adalah penggunaan listrik. Di Desa Beleq, Anda tidak akan menemukan listrik karena desa ini merupakan desa adat yang belum tersentuh listrik. Alasannya sederhana, karena para warga desa ingin menjaga tradisi nenek moyang mereka. Tetapi, mereka flesksibel terhadap hal-hal baru. Jadi, mereka masih mau menggunakan bahasa nasional sebagai alat komunikasi jika ada wisatawan asing sedang berada di desa tesebut.

  1. Desa Bayan

Desa adat lainnya yang menjadi desa-desa adat di Lombok adalah Desa Bayan. Desa ini memiliki sebuah simbol unik dengan ditandai berdirinya sebuah masjid kuno yang dibangun oleh Syeikh Gaus Abdul Razak. Oleh beberapa peneliti sejarah, diketahui masjid ini telah dibangun sejak abad ke 16. Dan yang mendirikan adalah salah satu penyebar agama islam. Jadi, jangan salah jika Lombok juga memiliki penganut agama Islam karena perkembangan dari desa Bayan. Desa ini masih tergolong adat, karena selain masjid yang terbuat dari bambu dan daun kering, rumah penduduk pun sama. Penduduk di desa ini pun masih sekitar 100-an kepala keluarga.

Desa-desa adat di Lombok memang sudah berdiri sejak ratusan tahun yang lalu. Mereka tetap menunjukkan sisi primitif dan teguh dalam menjaga prinsip yang telah diajarkan oleh nenek moyang mereka. Tak hanya itu saja, keadaan desa yang masih sepi jauh dari keramaian juga menunjukkan bahwa desa adat di Lombok juga tak mengusik kehidupan orang lain. Tetapi, bukan berarti mereka tidak terbuka. Desa-desa adat di sana merupakan desa-desa yang mau menerima hal-hal baru. Tangan terbuka pun dibentangkan ketika wisatawan berlibur. Jadi, dari desa inilah kita belajar bahwa keberagaman bisa disatukan. Ingat ya, Indonesia itu bhineka. Berbeda itu istimewa!